"“Demi ibadah saya, yang saya niatkan sendiri, orang-orang lain tak bisa pergi pijat karena selama sebulan semua panti pijat harus ditutup—meskipun ini bukan tempat yang mesum sama sekali—dan sekian ratus pemijat tidak mendapatkan penghasilan… Terkadang saya tak tahu apakah saya merasa bangga, atau bersyukur, atau merasa bersalah, ketika di mana-mana dipasang anjuran: ”Hormatilah Orang yang Berpuasa.”"
— Goenawan Mohamad (Caping: Puasa)

×

"…budaya berbuka puasa kita apalagi pada minggu-minggu pertama Puasa Ramadan yaitu “budaya balas dendam”… telah berpuasa seharian dan dibalas dengan makanan yang terbaik. Hal ini yang membuat harga-harga sembako dan lauk pauk menjadi meningkat. Ini yang harus diingatkan kepada masyarakat semua. Hikmah puasa adalah pembatasan asupan kalori, pembatasan makan, sehingga selayaknya budaya balas dendam saat berbuka itu kita redam."
— DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, KGEH, MMB, FINASIM, FACP (PB PAPDI: Hindari Budaya Balas Dendam Dalam Berbuka Puasa)

×

"Ada ironi yang berkecamuk dari dalam hati. Puasa itu kok semakin membuat saya boros ya… Saya sering lupa hikmah puasa ini jadinya. Wong, ketika berbuka jadi ajang balas dendam setelah kelaparan seharian. Jadi ingat teman saya bertanya, “gue puasa kok makin gemuk ya?”"
— Phadli Hasyim Harahap (Kompasiana: Puasa Setengah Hati)

×

"Tak terhitung berapa jumlah pengangguran yang tercipta di bulan puasa ini. Pedagang warung-warung makan beserta tukang cuci piringnya, pemilik diskotik dan tempat pelacuran, germo, dan lonte-lontenya. Bulan puasa ini musibah bagi mereka. Anggap saja masalah pedagang warung bisa sedikit di atasi, karena mereka masih bisa buka di sore harinya menjelang buka puasa atau malam hari di saat sahur, lalu bagaimana dengan germo dan lontenya? Buka lagi setelah puasa? Lha berarti pelacuran itu legal ya? Kalau memang berniat untuk menutup kegiatan mereka, mengapa harus menunggu puasa? Dan kalau berniat untuk menutup pelacuran, bukankah pelanggannya juga harus diciduk juga? Ups!"
— Rie Rie (Gila Hormat Saat Puasa)

×

"Kalo umat beriman, puasa itu biasa saja. Mau ada kantin buka, mo ada yang jualan es dawet tetap saja menahan diri.
Yang aneh kalo semua orang jualan dilarang jualan. Jangan-jangan orang berpuasa karena gak ada yang jualan.. bukan karena perintah agama."
— Eka Gocenk

×

"Persoalan penghormatan (puasa) ini agak rancu ya. Penghormatan seperti apa sih yang diharapkan? Saya merasa sudah cukup dihormati jika dibiarkan berpuasa, dan tidak dipaksa batal. Itu sudah penghormatan tertinggi atas hak asasi manusia, menjalankan kepercayaan dan tidak diganggu. Lalu, kalau kita terganggu karena ada yang makan di dekat kita, itu masalah kita kan?"
— Rika Nova (Saya lagi puasa ni, hormatin dong!)

×

"Agama, sebaliknya tidak mengklaim untuk jadi petunjuk praktis pengubah dunia. Semangat agama yang paling dasar menimbang hidup sebagai yang masih terdiri dari misteri, memang ada orang agama yang seperti kaum Marxis, menyombong bahwa “segala hal sudah ada jawabnya pada kami”; tapi pernyataan itu menantang makna doa—dan mematikan ruh religius itu sendiri. Sebab dalam doa, kita tahu, kita hanya debu."
Goenawan Mohamad

×

"Mengadopsi budaya setempat sama sekali tak terelakkan dalam agama manapun. Jika umat Islam mengkritik bahwa perayaan Natal adalah sisa-sisa budaya pagan non-Kristen, mereka harus ingat bahwa Islam juga melanjutkan budaya Arab pra-Islam, budaya jahiliyyah."

×

"Keadilan bersama nonmuslim itu lebih baik daripada ketidakadilan bersama muslim. Ibnu Taimiyah dalam kitab Siyasah Syar”iyah menegaskan, kalau orang yang adil meski nonmuslim jadi pemimpin, orang Islam pasti akan pula mendapat keadilan. Sebaliknya, jika ada pemimpin beragama Islam yang zalim, orang Islam sekalipun akan dizalimi. Tidak banyak kiai atau tokoh yang berani ngomong ini. Tapi, kalau saya berani."

×

"Jika orang tidak bisa berpura-pura “Tuhan menyuruh saya untuk melakukan hal ini” atau bersikeras “Allah di pihak saya,” sebagian besar perang bisa dihindari."
Annie Laurie Gaylor

×

Theme by Monique Tendencia